Seperti biasa, aku berteduh (baca: nge-net dan lunch gratis) di Lounge Indosat terminal 2 Cengkareng sebelum boarding. Dan tentu saja di "smoking" area krn makanan2nya lbh enak.
Well, I hate smokers, but trust me, less people smoke in this area because more people think of the same thing like me. They don't smoke but they prefer the foods here...
Namun hari ini ada yg beda.
-Aku gak kebagian tempat duduk, sodara2!!-
But no excuse to step back, I decided to share my table with others (read: they shared with me coz I came late ;p) .
- Risk: diajak ngobrol sm org yg gak dikenal, makan terpaksa lbh sedikit dr biasanya, pergerakan jd terbatas.
- Mitigation: Be Cool
Appetizer pertama aku duduk di plg pojok, terjepit di antara Haji dan Hajjah baru yg sibuk dengan aktivitas masing2.
Ada yg lg dandan, ada yg lg tiduran dengan kaki menghadap-ku persis, ada jg yg asik baca koran sambil sesekali melirik-ku (OK, gw GR, lbh tepatnya dia keheranan melihat gadis kecil yg dengan cueknya makan di tengah2 kerumunan rombongan haji)
Sekilas mataku menangkap ada meja kosong yg br ditinggalkan penumpang lain.
Dengan sigap aku memindahkan tas dan makananku ke meja kosong tsb. Fiuhh lumayan lah akhirnya punya meja sendiri.
Dan aku pun bergegas lagi mengambil appetizer ke-2 (Soto appetizer bukan sih? ;p)
Begitu sampai di mejaku, eh kok sdh ada 2 org bapak2 ya di sana?
((long story))
Instead of busy with the sharing stuffs, I observed like what Sherlock Holmes suggested (do not only see, do observe -SH-).
Aku mengamati sekeliling lounge itu.
Saking penuhnya dgn rombongan haji yg br pulang, bnyk yg duduk di lantai dengan tas2 mereka yg bejibun.
Kalo aku perhatikan ibu2 dan nenek2 yg ada di sana, dandanan mereka itu biasa bgt.
(Maaf) maksudku mereka bukan tipe Nyonya2 parlente gitu deh.
Yg ada di benakku saat itu adalah, 'Subhanalloh, sepertinya mereka bkn dr kalangan org2 kaya, namun mereka Haji lho..."
Lalu kapan aku Haji?
kata orang kan berhajilah selagi muda dan sehat.
Uang-ku mungkin cukup buat Umroh, tapi bnyk org menyarankan jgn Umroh sebelum Haji.
Klo sdh Umroh, pas Haji benerannya jd berkurang excitement-nya.
Takjub melihat Ka'bah pertama kali adalah sensasi yg tiada duanya (katanya)
Apalagi klo uang-nya pas2an mending maksimalkan tabungan buat Haji aja dulu :).
Tapi kapan ya?
Skrg aku msh nabung buat meng-haji-kan ortu dulu.
Klo nanya Ustadz sih sebenarnya yg utama adalah menghajikan diri sendiri.
Boleh meng-haji-kan org lain dgn alasan umur dan lain2, ini mulia dan tidak salah namun nilai-nya jd tdk utama.
Tapi ada juga pendapat yg mengatakan tetap harus kita pribadi dulu yg naik Haji sebelum org lain.
Bismillah, mudah2an kuat mencapai yg utama dan juga yg mulia...
Lagipula Haji itu kan panggilan dr Sang Kholiq.
Dan ditentukan oleh 3 hal: Niat, Nishab dan Nasib.
Ya seperti ibu2 dan nenek2 tadi...
0 comments:
Post a Comment